Post Top Ad

Post Top Ad

-0-

Senin, 10 Oktober 2011

Gebyar PK-PLK 2011: Siswa Berkebutuhan Khusus Perlu Diberi Motivasi & Kreatifitas

Kementerian Pendidikan Nasional menyelenggarakan "Gebyar dan Festival Kreasi Siswa Pendidikan Khusus dan Pendidikan Layanan Khusus (PK-PLK), Lomba Siswa Cerdas Istimewa dan Bakat Istimewa (CIBI) dan Lomba Siswa Inklusi" yang dilaksanakan di D.I.Yogyakarta.

Acara akbar yang diselenggarakan oleh Direktorat Pembinaan Pendidikan Khusus dan Layanan Khusus Pendidikan Dasar (PPK-LK Dikdas) ini dilaksanakan pada tanggal 12-14 Oktober 2011. Sebanyak ratusan siswa berkebutuhan khusus seluruh Indonesia dengan disabilitas dan siswa program CIBI akan mengikuti sejumlah lomba yang akan menitikberatkan pada kompetensi dan kreatifitas siswa.

Menteri Pendidikan Nasional (Mendiknas) Prof Dr Muhammd Nuh DEA akan membuka event ini pada tanggal 12 Oktober 2011 di Museum Benteng Vredeburg, Kota Jogja, DIY. Acara ini akan mengikutsertakan Sentra PK dan PLK, sekolah penyelenggara program CIBI dan sekolah penyelenggara pendidikan inklusif bagi anak berkebutuhan khusus (ABK) dengan disabilitas.

"Kita perlu terus memperlihatkan kepada masyarakat luas bahwa anak-anak Indonesia baik itu ABK dengan disabilitas dan yang CIBI sesungguhnya memiliki potensi, prestasi dan kemandirian untuk pembangunan. Selain itu kegiatan ini dapat memberikan arti positif bagi peningkatan mutu dan pengembangan sumber daya manusia, terutama penanaman pendidikan berkarakter bagi siswa,” kata Direktur PPK-LK Dikdas Dr. Mudjito A.K, M.Si saat berkunjung ke Jogja belum lama ini dalam melihat persiapan event akbar ini.

Hak untuk mendapatkan pembinaan khusus bagi anak berkebutuhan khusus (ABK) di segala bidang dijamin oleh undang-undang. Amanat UU Sistem Pendidikan Nasional No.20 tahun 2003 pada Pasal 32 Ayat 1 tentang pendidikan khusus (PK) seperti untuk anak dengan disabilitas (cacat), kemudian anak cerdas istimewa dan bakat istimewa; Ayat 2 tentang Pendidikan Layanan Khusus (PLK) seperti anak jalanan, anak dari keluarga miskin absolut, anak korban trafficking, anak TKI, anak korban bencana, anak pelacur dan pelacur anak, anak korban narkoba dan HIV/AIDS, anak di daerah terpencil atau pedalaman atau pulau-pulau, dan lapas anak.

"Pelatihan ketrampilan yang dilakukan oleh Kemdiknas dirancang untuk mempersiapkan anak berkebutuhan khusus untuk praktek di bidang multi disiplin kompetensi untuk menjadi seorang mandiri, profesional yang dapat produknya memiliki daya saing di pasaran. Hal ini seiring untuk menunjang program pemerintah dalam menggalakkan industri ekonomi kreatif," katanya.

Ada 14 industri yang diidentifikasi sebagai industri kreatif: (1) arsitektur, (2) desain, (3) kerajinan, (4) layanan komputer dan peranti lunak, (5) mode, (6) musik, (7) pasar seni dan barang antik, (8) penerbitan dan percetakan, (9) periklanan, (10) permainan interaktif, (11) riset dan pengembangan, (12) seni pertunjukan, (13) televisi dan radio, serta (14) video, film, dan fotografi. Bagi ABK dengan disabilitas seperti tunarungu, tunadaksa dan tunanetra dapat mengambil kompetensi-kompetensi ini.

Orientasi pembelajaran life skills atau kecakapan hidup yang berorientasi pada kerarifan lokal terus dikembangkan, dengan mengkondisikan proses belajar aktif hingga peserta didik atau komunitas memiliki knowledge dan skills (pengetahuan dan ketrampilan) tertentu serta potensi bagi pengembangan skills lebih lanjut.

Dalam penyataannya, Gubernur DIY Hamengkubuwono X mengatakan bahwa kreativitas siswa dapat tumbuh dan berkembang dengan baik, apabila selama di bangku sekolah diberi kebebasan serta tantangan untuk berkreasi, bereksplorasi, bereksperimen dalam tindakan-tindakan yang nyata. Dengan demikian teori dan dunia realita akan terakumulasi dalam semangat keingintahuan siswa.

Riset oleh Roger Sperry --sang pemenang Nobel bidang Fisiologi tahun 1981-- menunjukan bahwa otak manusia terdiri dari dua hemisfer, kiri dan kanan. Hemisfer kiri adalah bagian yang berkaitan dengan logika, sedangkan yang kanan berkaitan dengan kreativitas dan keindahan. Karena berbagai pengaruh luar, umumnya manusia Indonesia memecahkan masalah terutama dengan mengandalkan pola berpikir hemisfer kiri.

"Secara sederhana kreativitas adalah proses penciptaan gagasan-gagasan dan konsep-konsep. Sedangkan inovasi adalah proses perwujudan ide-ide kreatif hingga menghasilkan output yang memiliki nilai, baik nilai akademik maupun nilai ekonomis," papar gubernur.

Dalam kesempatan itu Mudjito memaparkan pada awal September 2011 Kemdiknas telah memberikan penghargaan pendidikan inklusif kepada tokoh, pemerhati dan pemerintah provinsi yang peduli terhadap pelayanan pendidikan terutama bagi ABK dengan disabilitas. Dua provinsi yang memperoleh Inclusive Education Award (IEA) 2011 itu adalah Jawa Barat (Jabar) dan Jawa Timur (Jatim).

"Pendidikan inklusif di dua daerah ini sangat maju dan perlu dicontoh untuk daerah lainnya. Mereka telah melakukan nyata sehingga pendidikan inklusif mendapatkan pembinaan langsung dan dukungan dana dari APBD," ujar Mudjito.

Pendidikan inklusif dimaksudkan, lanjutnya, sebagai sistem layanan pendidikan yang mengikutsertakan anak berkebutuhan khusus belajar bersama dengan anak sebayanya di sekolah reguler yang terdekat dengan tempat tinggalnya. Penyelenggaraan pendidikan inklusif menuntut pihak sekolah melakukan penyesuaian baik dari segi kurikulum, sarana dan prasarana pendidikan, maupun sistem pembelajaran yang disesuaikan dengan kebutuhan individu peserta didik.

Dikatakannya, IEA 2011 yang bekerja sama dengan Helen Keller International (HKI) Indonesia ini merupakan media pemicu agar setiap daerah berlomba-lomba dan mampu meningkatkan pelayanan pendidikan bagi ABK.

Selain Jabar dan Jatim yang telah mengalokasikan anggarannya untuk pelayanan pendidikan bagi ABK dengan disabilitas ini, disusul Sulawesi Selatan, DKI Jakarta dan Nangroe Aceh Darussalam.

Data Anak Disabilitas Usia Sekolah

Data yang terhimpun dari Dit.PPK-LK Dikdas sampai tahun 2011 ini ada sebanyak 356.192 anak berkebutuhan khusus (ABK) dengan disabilitas. Namun baru terlayani 85.645 ABK disabilitas yang memperoleh layanan pendidikan pada Sekolah Luar Biasa (SLB), Sekolah Dasar Luar Biasa (SDLB), dan Sekolah Terpadu maupun sekolah penyelenggara pendidikan inklusif. Artinya sebanyak 249.339 ABK disabilitas (70%) usia 5-18 tahun yang belum sekolah.

Data sementara dari Dit.PPK-LK Dikdas tahun 2010/2011 lebih dari 1.654 sekolah penyelenggara pendidikan inklusif (SD-SMP) yang melayani 18.176 ABK dengan disabilitas. Sementara jumlah Sekolah Luar Biasa (SLB) baik negeri dan swasta sebanyak 1.785 sekolah. Sejak delapan tahun terakhir pendidikan inklusif telah menjadi solusi alternatif mewujudkan pendidikan untuk semua (Education for All).

Mudjito mengakui bahwa pemenuhan kebutuhan pendidikan bagi ABK disabilitas merupakan perkara yang wajib bagi pemerintah. Namun peran masyarakat dan pengusaha tidak dapat melepaskan tanggung jawab sepenuhnya kepada pemerintah. Karena jangkauan pelayanan pemerintah yang terbatas.

"Sebagian masyarakat yang memiliki ABK dengan disabilitas ini tidak menyekolahkan anak-anaknya karena malu. Sebagian lagi, kerena himpitan ekonomi. Selain itu masalah geografis maupun ABK yang tinggal di daerah pelosok dan 3T (Tertinggal, Terpencil, Terdepan/Terluar) sehingga menyulitkan mereka untuk bersekolah," kata Mudjito.

Lomba Siswa ABK

Media Relation Dit.PPK-LK Dikdas Rahmintama menyebutkan event akbar yang biasa disebut Gebyar Siswa PK-PLK ini melibatkan Sentra PK-PLK yang berada di Sekolah Luar Biasa (SLB), sekolah penyelenggara program akselerasi dan sekolah penyelenggara pendidikan inklusif.

Ada tiga kategori jenis kompetisi dalam penyelenggaraan ini. Pertama, kategori gebyar yang melibatkan Sentra PK-PLK dengan dua kompetisi yaitu Lomba Stand Pameran Kreasi Siswa dan Lomba Manajemen Pengelolaan Sentra PK-PLK yang melibatkan 363 guru dan staf SLB dari 33 provinsi di Indonesia.

Pada Lomba Stand Pameran Kreasi Siswa, setiap stand pameran harus menampilkan hasil kreasi siswa PK-PLK provinsi masing-masing yang di dekor dengan ciri khas provinsi yang bersangkutan. Setiap provinsi harus bisa mendemontrasikan hasil kreasi siswa yang dipamerkan. Sedangkan pada Lomba Manajemen Pengelolaan Sentra PK-PLK, setiap peserta harus dapat mempresentasikan kemajuan yang telah dicapai selama ini dan memaparkan rencana kegiatan ke depan yang dapat menunjang kesinambungan atas prestasi yang telah dicapai.

Kategori kedua adalah Lomba Siswa CI/BI (akselerasi) yang diikuti 132 siswa merupakan kompetisi yang diperuntukkan bagi siswa-siswi yang terdaftar pada SD atau SMP penyelenggara akselerasi, dengan nomor lomba Cerdas-Cermat MIPA siswa SD, lomba Pidato dalam Bahasa Inggris siswa SMP, dan lomba Penelitian Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (IPTEK) bagi siswa SMP.

Kompetisi kategori terakhir adalah untuk siswa penyandang ketunaan dari SLB maupun sekolah penyelenggara pendidikan inklusif yang akan melibatkan 99 siswa. Dalam ajang ini akan dikompetisikan Lomba Menari Tradisional untuk siswa SD/SMPLB Inklusif dari siswa penyandang tunarungu (B), tunagrahita (C), atau tunadaksa (D). Kompetisi lainnya adalah Lomba Menyanyi Solo untuk siswa SD/SMP Inklusif yang mengikutsertakan siswa penyadang tunanetra (A). Lalu lomba ketiga bagi ABK ketunaan adalah Lomba Desain Grafis untuk siswa SMP Inklusi bagi siswa tunarungu (B), tunagrahita (C), atau tunadaksa (D).

Selain itu, setiap provinsi akan mengutus satu guru pendamping ABK dan satu orang pembina dari dinas pendidikan provinsi se-Indonesia. Besarnya perhatian pemerintah bagi ABK menjadi harapan pembangunan manusia melalui pendidikan berkarakter yang non diskriminatif. Hal itu pula yang menjadi harapan PBB dalam Education for All (EFA/ pendidikan untuk semua).

“Semua anak mempunyai potensi, kemampuan dan hak yang sama untuk tidak didiskriminasikan dan memperoleh pendidikan yang bermutu. Dan ini juga menyadarkan kita bahwa sekolah umum serta guru mempunyai kemampuan untuk belajar merespon dari kebutuhan pembelajaran anak yang berbeda-beda,” ujar Rahmintama.

Sementara bagi Dit.PPK-LK Dikdas Kemdiknas event akbar ini merupakan penyelenggaraan yang ke enam. Tahun 2006 di Bandung, tahun 2007 di Jogja, tahun 2008 di Solo, tahun 2009 di Malang, tahun 2010 di Jogja. Dari pusat, tahun ini Pemprov DIY ditunjuk menjadi tuan rumah penyelenggaannya.

“Seluruh siswa berlomba diselenggarakan di Benteng Vredeburg, Kota Jogja. masyarakat dapat melihat secara gratis pada event akbar ABK penyandang ketunanaan dan non ketunaan ini. Karena event yang melibatkan peserta dari 33 provinsi itu hanya berlangsung hanya setahun sekali, dan ini penyelenggaraan kedua kali bagi Kota Jogja,” katanya.[\]

Salam
Rahmintama

Tidak ada komentar:

Posting Komentar