Post Top Ad

Post Top Ad

-0-

Sabtu, 30 Juni 2012

Payakumbuh jadi Kota Inklusi Pertama di Indonesia

Payakumbuh, Padek—Sebanyak 393.333 jiwa anak Indonesia usia 6-15 tahun, dilaporkan memiliki kebutuhan khusus atau menyandang ketunaan, seperti  penyandang tunadaksa, tunarungu, tunagrahita, tunanetra, tunalaras, ADHD, downsyndrome dan autis. Dari jumlah tersebut, baru 30 persen atau 106.000 jiwa yang memperoleh la­yanan pendidikan dasar. Sedangkan 70 persen lainnya atau sekitar 287.833 jiwa lainnya, masih termarjinalkan.

”Hal ini tidak hanya disebabkan karena anak-anak berkebutuhan khusus, disembunyikan orang tua mereka atau berd­o­mosili di lokasi yang sulit dijangkau. Tapi juga terjadi terba­tas­nya sekolah yang melayani pendidikan inklusi atau pendidikan untuk anak berkebutuhan khusus,” kata Harizal KaSubdit Program dan Evaluasi Direktorat Pembinaan Pendididikan Khusus dan Layanan Khusus Pendidikan Dasar Kemdikbud di Aula SMKN 2 Payakumbuh, Jumat (29/6/2012).

Harizal mewakili Direktur PPK-LK Dikdas bersama pejabat direktorat berada di Payakumbuh untuk menghadiri deklarasi Payakumbuh sebagai kota inklusi atau kota pendidikan anak berkebutuhan khusus. Di Indonesia, menurut Harizal deklarasi kota inklusi baru dilakukan Kota Payakumbuh, Sumbar.

Makanya, atas nama Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Harizal memberi apresiasi yang tinggi kepada Josrizal Zain, sebagai wali kota pertama di Indonesia yang punya punya kepedulian tinggi terhadap pendidikan berkebutuhuan khusus. Dia berharap, semangat Payakumbuh ini, akan mendorong  kota dan kabupaten lainnya di Indonesia, untuk berbuat sama, menumbuhkan pendidikan inklusif di daerah masing-masing.

”Kemendikbud mengajajak seluruh kota/kabupaten  di Indo­nesia, terutama di Sumbar, untuk secepatnya melakukan koordinasi dengan kepala daerahnya, sebagai pemangku otonomi daerah, agar melakukan hal yang sama dengan Kota Payakumbuh. Pendidikan inklusif,  harus dikereyok bersama oleh seluruh instansi terkait, elemen masyarakat dan stakeholders lainnya,” tegas Harizal.

Sebagai wujud apresiasi kepada Pemkot Payakumbuh yang sudah mencanangkan kotanya sebagai kota inklusi, Kemendikbud mengucurkan dana sebesar Rp4 miliar. Dana sebanayak itu dikucurkan buat pem­bangunan infrastruktur pendukung, Sekolah Luar Biasa (SLB) Centre Payakumbuh. Untuk tahap awal, dana dikucurkan sebesar Rp1,85 miliar. Sisanya, akan dianggarkan tahun 2013 mendatang.

”Setelah sarana penunjang SLB Centre dibangun, Kemdikbud tidak hanya menjadikan Payakumbuh sebagai  pusat-pusat pendidikan anak-anak berkebutuhan khusus di Sumatera. Tapi juga menjadi pusat pelatian bagi guru-guru yang akan me­ngajar anak-anak berkebutuhan khusus di  Sumatera,” ujar Harizal.

Untuk mempersiapkan Payakumbuh sebagai pusat pendidikan inklusi di pulau Sumatera itu, Kepala Dinas Pendidikan Sumbar Syamsurizal meminta, seluruh sekolah mulai dari SD, SMP dan SMA, ikut membuka kelas inklusi. Sehingga, seluruh anak-anak berkebutuhan khusus di Indonesia, benar-benar mendapatkan pelayanan pendidikan yang adil dan merata secara luas.

”Di Sumatera Barat sendiri, saat ini, baru 92 sekolah yang melayani pendidikan insklusi dari 113 SLB. Untuk menunjang keberadaan pendidikan itu, Pemprov Sumbar bersama DPRD Sumbar sudah  mengalokasikan dana sebesar Rp1 juta, untuk setiap anak berkebutuhan khusus,” kata Syamsurizal yang ikut menghadiri deklarasi pendidikan inklusi.

Wali Kota Payakumbuh Josrizal Zain mengatakan, Pemkot Payakumbuh tidak akan setengahsetengah, dalam melaksanakan pendidikan inklusi. ”Apalagi, kita sudah mulai program sejak tahun 2006 lalu, dengan menjadi  penyelenggara pertemuan inklusi tingkat dunia, yang diikuti delegasi dari negara-negara Amerika, Eropa, Afrika dan Asia,” ujar Josrizal.

Selain sudah memulai sejak tahun 2006, pendidikan inklusi yang diterapkan di Payakumbuh, menurut Josrizal Zain juga sudah menjadi acuan warga dunia. ”Sekitar 2007, diundang ke Norwegia, untuk membahas pendidikan inklusi. Setelah itu atau tahun 2008, kita dikunjungi Kementerian Pendidikan Timor Timor dan tahun 2010 juga datang belajar ke sini Pemerintah Afganistan,” ujar Josrizal didampingi Kadisdik Payakumbuh Edvianus.

Dalam deklarasi Payakumbuh sebagai kota pendidikan inklusi, puluhan anak-anak berkebutuhan khusus, menampilkan bakat mereka dalam bernyanyi. Penampilan ini membuat Ketua DPRD Wilman Singkuan,

Ketua LKAAM Indra Zahur Dt. Rajo Simarajo, Ketua MUI H Mis­mardi, Ketua Bundo Kanduang Hj Misnah,  Ketua Dewan Pendidikan Payakumbuh Sevindra Juta tokoh pendidikan H Choudri dan ribuan undangan, berdecak kagum. (frv)


padangekspres.co.id

Tidak ada komentar:

Posting Komentar