Post Top Ad

Post Top Ad

-0-

Minggu, 29 Juli 2012

Masyarakat Perlu “Melek” Pendidikan Anak Berkebutuhan Khusus

Siaran Pers Lomba Foto dan Lomba Penulisan Jurnalistik tentang ABK tahun 2012

Direktorat Pembinaan Pendidikan Khusus dan Layanan Khusus Pendidikan Dasar (Dit.PPK-LK Dikdas) Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud) tahun 2012 ini menggelar dua lomba yaitu Lomba Foto dan Lomba Penulisan Jurnalistik dengan tema Anak Berkebutuhan Khusus (ABK) yang ditujukan kepada masyarakat umum.

"Penyelenggaraan ini dalam rangka peningkatan pelayanan Pendidikan Khusus (PK) dan Pendidikan Layanan Khusus (PLK) dalam bentuk kepedulian masyarakat terhadap anak-anak berkebutuhan khusus," kata Direktur PPK-LK Dikdas Dr. Mudjito A.K, M.Si.

Menurutnya masyarakat perlu diberikan 'melek' terhadap kepedulian ABK, baik ABK dengan disabilitas maupun ABK non disabilitas. Sehingga masyarakat memahami pentingnya pendidikan bagi ABK tersebut.

"Melaui sebuah gambar foto dapat direkam bagaimana semangat anak-anak disabilitas maupun non disabilitas bersekolah. Bahkan kita pun bisa melihat kondisi mereka yang belum terlayani pendidikan. Fotografi adalah salah satu medium yang memegang peranan penting dalam perkembangan kultur visual. Artinya foto sebagai saluran merekam sejarah dalam kehidupan manusia," paparnya.

Sementara itu dalam lomba penulisan jurnalistik, pihaknya ingin membuka seluas-luasnya tentang pelayanan pendidikan bagi ABK. "Tulisan-tulisan para peserta akan menjadi inspirasi dan dorongan di belahan daerah lain yang belum melek pendidikan bagi ABK disabilitas. Sehingga masyarakat kita bisa bangkit dengan tulisan-tulisan bermutu," kata Mudjito seraya memberikan petunjuk teknis lebih lengkap kedua lomba tersebut pada website www.pk-plk.com.

Menurutnya, hak untuk mendapatkan pembinaan khusus bagi ABK di segala bidang dijamin oleh undang-undang. Amanat UU Sistem Pendidikan Nasional No.20 tahun 2003 pada Pasal 32 Ayat 1 tentang pendidikan khusus (PK) seperti untuk anak dengan disabilitas (cacat), kemudian anak cerdas istimewa dan bakat istimewa; Ayat 2 tentang Pendidikan Layanan Khusus (PLK) seperti anak jalanan, anak dari keluarga miskin absolut, anak korban trafficking, anak TKI, anak korban bencana, anak pelacur dan pelacur anak, anak korban narkoba dan HIV/AIDS, anak di daerah terpencil atau pedalaman atau pulau-pulau, dan lapas anak.

Data Anak Disabilitas Usia Sekolah

Data yang terhimpun dari Dit.PPK-LK Dikdas sampai tahun 2011 ini ada sebanyak 356.192 anak berkebutuhan khusus (ABK) dengan disabilitas. Namun baru terlayani 85.645 ABK disabilitas yang memperoleh layanan pendidikan pada Sekolah Luar Biasa (SLB), Sekolah Dasar Luar Biasa (SDLB), dan Sekolah Terpadu maupun sekolah penyelenggara pendidikan inklusif. Artinya sebanyak 249.339 ABK disabilitas (70%) usia 5-18 tahun yang belum sekolah.

Data sementara dari Dit.PPK-LK Dikdas tahun 2010/2011 lebih dari 1.654 sekolah penyeleng-gara pendidikan inklusif (SD-SMP) yang melayani 18.176 ABK dengan disabilitas. Sementara jumlah Sekolah Luar Biasa (SLB) baik negeri dan swasta sebanyak 1.785 sekolah. Sejak delapan tahun terakhir pendidikan inklusif telah menjadi solusi alternatif mewujudkan pendidikan untuk semua (Education for All).

Mudjito mengakui bahwa pemenuhan kebutuhan pendidikan bagi ABK disabilitas merupakan perkara yang wajib bagi pemerintah. Namun peran masyarakat dan pengusaha tidak dapat melepaskan tanggung jawab sepenuhnya kepada pemerintah. Karena jangkauan pelayanan pemerintah yang terbatas.

"Sebagian masyarakat yang memiliki ABK dengan disabilitas ini tidak menyekolahkan anak-anaknya karena malu. Sebagian lagi, kerena himpitan ekonomi. Selain itu masalah geografis maupun ABK yang tinggal di daerah pelosok dan 3T (Tertinggal, Terpencil, Terdepan/Terluar) sehingga menyulitkan mereka untuk bersekolah," kata Mudjito.[\]

Media Relations
Rahmintama

Tidak ada komentar:

Posting Komentar