Post Top Ad

Post Top Ad

-0-

Rabu, 05 September 2012

Banyak Sekolah Reguler tak Bersedia Terima Anak Berkebutuhan Khusus

Bali Dinilai Tak Peduli Siswa Cacat
Denpasar (beritadewata.com)- Pemerintah Bali selama ini dinilai tidak terlalu peduli kepada anak berkebutuhan khusus (ABK) karena sampai sekarang belum ada sekolah inkslusif atau sekolah reguler  yang bersedia menerima  ABK. Demikian dikatakan Dr Praptono, M.Ed, selaku Kasi Penilaian dan Akreditasi Direktorat Pembinaan PKLK Dikdas Kemdikbud sekaligus Ketua Panitia Olimpiade Sains Nasional (OSN) di Sanur, Bali, Selasa (4/9/2012).

Menurut Praptono, dari jumlah sekolah insklusif tersebut Bali sangat ketinggalan dari propinsi lain seperti Jawa Barat maupun Jawa Timur. Di Jatim, dari 32 kecamatan/kota, sudah 24 sekolah menjadi sekolah insklusif. "Padahal dalam aturan pada tahun 2009, harus ada minimal 1 sekolah insklusif di kecamatan sehingga bisa menampung ABK," ujarnya.

Untuk sekolah insklusif, lanjutnya, dianggarkan dana Rp 450 miliar oleh Kemendiknas. Sedangkan tahun lalu Rp 380 miliar. Besarnya dana tersebut mestinya diserah Pemda Bali dengan membuat sekolah insklusif. Praptono menyatakan, kendala yang disampaikan Pemda umumnya adalah keterbatasan SDM, sarana dan prasarana."Tapi intinya sekolah sekolah di Bali masih belum peduli memenuhi hak ABK, "tegasnya.

Dijelaskan Praptono, berdasarkan data Kemensos, anak cacat usia sekolah 365 ribu orang di Indonesia, namun jumlah itu jauh dari prediksi WHO. Dari data itu, hanya 106 ribu anak yang terlayani di jenjang pendidikan dasar. Dari 106 ribu anak ini, 70 persen berada di sekolah luar biasa."Target kami pada 2015, partisipasi murni ABK di jenjang pendidikan dasar 65 persen, dan sekarang hanya 30,2 persen," ujarnya.

Terkait dengan pemberdayaan anak anak berkebutuhan khusus, digelar Olimpiade Sains Nasional (OSN) 2012 PK-LK Dikdas.

Dalam OSN ini digelar 8 cabang yang dilombakan diantara cerdas-cermat MIPA anak tunanetra, olimpiade matematika, olimpiade IPA, lomba IT, lomba kewirausahaan.

Menurut Praptono, tujuan OSN di Bali ini adalah sebagai wadah apresiasi terhadap ABK sekaligus menunjukkan  prestasi, bakat serta menumbuhkan semangat  kewirausahaan."Dari OSN ini juga Kemendiknas ingin melakukan pengujian sejauh mana  vocational skill yang diajarkan di sekolah bisa  berjalan baik atau tidak," katanya.

OSN diikuti masing-masing 8 peserta dari 33 propinsi se-Indonesia. Acara berlangsung hingga 6 September mendatang.[\] kontributor Agus Astapa

Foto:
Dr Praptono, M.Ed, selaku Kasi Penilaian dan Akreditasi Direktorat Pembinaan PKLK Dikdas Kemdikbud.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar