Post Top Ad

Post Top Ad

-0-

Sabtu, 07 Desember 2013

Jambore ABK Dikdas Tingkat Nasional Thn 2013 ke-3

Siaran Pers
by Bung Rahmintama

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud) menyelenggarakan Jambore Nasional Anak Berkebutuhan Khusus (ABK) jenjang Pendidikan Dasar (Dikdas) tahun 2013 yang ketiga. Seperti tahun lalu Jambore ABK tahun ini pun diselenggarakan di Surakarta, Jawa Tengah.

"Jambore bagi siswa berkebutuhan khusus yang kedua ini mengedepankan pendidikan karakter dengan model pembelajaran di luar sekolah yang menyenangkan bagi peserta didik. Hal ini karena ABK perlu suasana pendidikan yang menarik, menyenangkan dan menantang, sehingga mereka mampu meningkatkan kepercayaan dan kompetensi diri," kata Direktur Pembinaan Pendidikan Khusus dan Layanan Khusus Dikdas, Mudjito jelang pembukaan event akbar tersebut di Hotel Lor In, Solo, Minggu malam (8/12/2013).

Dalam kegiatan ini syarat terhadap pendidikan berkarakter. Karena tujuan Jambore Nasional ABK ini untuk mengembangkan potensi ABK dalam konteks pendidikan karakter agar menjadi individu yang berakhlak mulia, memiliki wawasan kebangsaan, apresiasif terhadap seni dan budaya Indonesia, terampil, tangkas, penuh percaya diri, serta mandiri.

"Pada event ini mereka seluruh Indonesia bertemu. Dengan banyak teman, mereka bisa melakukan segala sesuatunya bersama. Saya juga berterima kasih kepada guru maupun pendamping yang mampu dan tak henti-hentinya membina ABK menjadi mandiri. Dari anak yang tidak tahu, menjadi tahu. Mulai yang sulit berkomunikasi, kini menjadi mudah. Melalui akses dan kesempatan seperti inilah, anak-anak tumbuh kepercayaan dirinya," paparnya.

Kegiatan ini merupakan implementasi dari Gathering Scout With Special Needs (GSWSN) atau yang disebut Outbound ABK yang diselenggarakan pada tahun 2011 di Sari Ater, Jawa Barat yang bekerja sama dengan  Kwartir Nasional (Kwarnas) Gerakan Pramuka.

Dalam Jambore ini diikuti sebanyak 330 peserta meliputi lima siswa penyadang disabilitas masing-masing adalah tunanetra, tunarungu, tunagrahita, tunadaksa dan autis yang berasal dari 33 provinsi di Indonesia bersama guru-guru pendampingnya mengikuti serangkaian kegiatan hingga 11 Desember 2013 di kawasan Hotel Lor In, Solo.

Mudjito menjelaskan dalam event ini akan tercipta model-model pendidikan karakter seperti menanamkan jiwa patriotisme, memupuk jiwa persaudaraan antarpeserta, meningkatkan ketaqwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa.

"Jambore ABK ini berguna untuk melatih keberanian dan ketahanan mental dan fisik mereka, serta memupuk sikap toleransi dan tanggung jawab terhadap diri sendiri dan masyarakat di lingkungannya," ujarnya.

Kemudian, ada pula permainan wawasan kebangsaan, cinta tanah air, permainan penjelajahan, perilaku hidup bersih dan sehat, pelestarian lingkungan melalui ketrampilan daur ulang dari barang bekas. Pada hari terakhir diselenggarakan karnaval sebagai wujud cinta budaya daerah, dan pentas seni.

"ABK juga belajar bertoleransi dengan perbedaan satu sama lain. Mereka belajar budaya bangsa dari peserta lain melalui permainan-permainan yang menyenangkan, dalam bentuk pentas seni dan karnaval dengan pakaian daerah," kata Mudjito.

Program PMU

Dalam kesempatan yang sama Dirjen Pendidikan Dasar (Dikdas) Hamid Muhammad mengatakan    wajib belajar pendidikan dasar sembilan tahun sudah memasuki tahap akhir dan akan diganti dengan Pendidikan Menengah Universal (PMU).

Dalam rangka pelaksanaan PMU tersebut terkait dengan PK-PLK, maka ada beberapa yang harus dilakukan oleh pemerintah, diantaranya adalah menyiapkan layanan pendidikan melalui SLB dan sekolah inklusif. "Masih ada 100 lebih Kabupaten yang belum mempunyai SLB.Dan ini memberikan kesempatan kepada sekolah reguler mau menjadi sekolah inklusif," katanya.

Hamid melanjutkan bahwa saat ini terdapat 330.000 anak berkebutuhan khusus tingkat pendidikan dasar. Namun dari jumlah itu yang mengenyam pendidikan sebanyak 116.000 anak. "Jadi masih ada 65% anak berkebutuhan khusus yang belum terlayani pendidikan. Dengan adanya PMU itu maka kita wajib menjemput anak berkebutuhan khusus tersebut untuk memberikan layanan pendidikan minimal di sekolah inklusif," tutur Hamid.

Program Pendidikan Menengah Universal telah diluncurkan  Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Mohammad Nuh pada Juni 2013. PMU ditujukan untuk mencapai target Angka Partsisipasi Kasar (APK) pendidikan menengah 97% pada tahun 2020.

Saat ini tercatat APK pendidikan menengah baru mencapai 78,7%. Target pencapaian APK pendidikan menengah  97%  pada tahun 2020 mengisyaratkan  bahwa seluruh siswa lulusan Sekolah Menengah Pertama (SMP) sederajat dapat melanjutkan ke jenjang pendidikan menengah dan  lulusan SMA sederajat dapat melanjutkan ke jenjang perguruan tinggi atau memasuki dunia kerja. 

Program PMU merupakan salah satu strategi untuk menghadapi meningkatnya penduduk usia produktif di Indonesia. Melalui program PMU ini Kemdikbud memberikan kesempatan seluas-luasninkluya kepada setiap warga negara untuk mengikuti pendidikan menengah yang bermutu.

Berdasarkan data Direktorat Pembinaan Pendidikan Khusus dan Layanan Khusus Dikdas Kemendikbud, bahwa angka partisipasi murni (APM) ABK di dunia pendidikan pada tahun 2011 pada jenjang pendidikan dasar baru di angka 30,5 persen. Tentunya menjadi pekerjaan rumah kita bersama, terutama bagi pemangku kebijakan pendidikan di daerah.

Sesungguhnya, negara sudah memperhatikan pendidikan siswa ABK ini, dengan diaturnya pendidikan bagi ABK dalam Pasal 32 ayat 1 pada UU nomor 20 tahun 2003 tentang sistem pendidikan nasional, bahwa setiap warga negara mempunyai hak yang sama untuk memperoleh pendidikan yang bermutu tanpa ada diskriminasi. Bahkan warga negara yang memiliki kelainan fisik, emosional, mental, intelektual, dan/atau sosial berhak memperoleh pendidikan khusus. [\]

Tidak ada komentar:

Posting Komentar