Post Top Ad

Post Top Ad

-0-

Minggu, 01 Desember 2013

Oscar Motuloh: Semangat ABK, Semangat Drajat Manusia yang Sama

Ki-ka: Beawiharta (Photographer Senior Reuters), Rahmintama (Sekjen Forum Komunikasi PK-PLK se-Indonesia), Adek Berry (Pewarta Foto Senior AFP), dan Oscar Motuloh (Kurator Galeri Foto Jurnalistik ANTARA).
Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud) melalui Direktorat Pembinaan Pendidikan Khusus dan Layanan Khusus Pendidikan Dasar (Dit.PPK-LK Dikdas) menyelenggarakan Lomba Foto tingkat Nasional tahun 2013 bertema Anak Berkebutuhan Khusus. Penyelenggaraan ini merupakan salah satu wujud program kepedulian kepada masyarakat di bidang karya seni visual dua dimensi.

Lomba Foto ini adalah sebuah lomba foto spesifik seperti anak berkebutuhan khusus (ABK) yang jarang dilakukan oleh pihak lainnya. Apalagi dengan kualitas foto-foto yang diterima juri pada umumnya sangat menarik.

Koordinator Juri dalam Lomba Foto ABK Oscar Matuloh mengatakan kehidupan manusia dengan segala bentuk aktivitas keseharian dan kehidupan yang dilakukannya memang selalu menarik untuk dijadikan objek dalam foto.  Peristiwa yang menarik tersebut bisa muncul karena dipicu oleh kegiatannya yang terasa unik dan tidak biasa, baik itu aktivitas di dalam adat budaya, maupun aktivitas dalam kehidupan sehari-hari yang biasanya sangat berbeda dari kehidupan masyarakat.

Menurut pria gondrong yang menjabat Kurator Galeri Foto Jurnalistik ANTARA ini, kehidupan ABK memang selalu menarik perhatian masyarakat. Hingga kini sejak tahun 2012 baru Kemdikbud melalui  Direktorat Pembinaan Pendidikan Khusus dan Layanan Khusus Pendidikan Dasar yang menyelenggarakan pertama kali lomba foto yang mengangkat kebidupan ABK, baik itu ABK disabilitas maupun ABK non disabilitas.

Ketangguhannya, semangatnya, dan semuanya. Dengan merekam semua aktivitas mereka sehari-hari di dalam sebuah foto, hal ini akan membuat hasil dari foto terlihat lebih menakjubkan. Yang membuat hal ini lebih istimewa, pesertanya adalah pewarta foto, pemerhati pendidikan, pelajar,mahasiswa, guru, dosen, siswa dan masyarakat umum dari seluruh penjuru Indonesia. 

Karya yang dihasilkan pun sangatlah luar biasa. Peserta menggambarkan kehidupan dan aktivitas ABK serta ekspresi emosional yang memperlihatkan ABK dengan kehidupannya. Kesemuanya itu membawa rasa ketertarikan dan rasa simpati bagi orang yang melihat foto-foto tersebut. “Otomatis ini menjadi tantangan tersendiri bagi fotografer yang menerjemahkan karena tidak mudah memberikan sebuah gambar tentang kehidupan ABK di tengah masyarakat,” ungkapnya. Oscar menjelaskan foto human interest lebih banyak merekam suasana dan peristiwa yang tidak biasa. Semakin dramatis peristiwa yang didapat, maka semakin sukses foto human interest tersebut.

Tim juri juga lebih mengedepankan foto-foto yang menunjukkan harkat dan martabat, serta kekuatan pesan dari sebuah foto yang menjadi point menjadi penting penilaian 30%. Point lannya adalah komposisi foto [25%], harnomisasi foto [20%], handicap [15%], dan kesesuaian tema [10%]. Gambar (foto) yang memenangi itu lomba foto ini juga menunjukkan kekuatan unsur itu. “Hanya saja kami juga perhatikan foto khusus ABK ini juga secara fotografis haruslah etis,” katanya.

Dari jumlah foto sebanyak 170 buah, ada 3 pemenang yang dipilih berdasarkan keputusan juri. “Foto dicari 3 pemenang. Pertama, ada 20 pemenang foto favorit. Setiap pemenang mendapatkan satu hadiah,” katanya. Dalam menentukan pemenang tersebut pun, tentunya ada musyawarah serta perdebatan untuk menentukan pemenangnya. Yang diperhatikan antara lain kesesuaian tema, artistik, dan masih banyak lagi. “Basic penilaiannya masih mengacu pada realita,” ungkapnya.

Dalam lomba ini tidak membedakan peserta antara pewarta foto/ forografer media dengan masyarakat umum. Kami pun dalam penjurian ini juga akan tidak tahu apakah yang juara ini dari kalangan jurnalis, umum atau mahasiswa. Tapi kami bisa melihat ciri-ciri itu. Memang sebaiknya ke depan dibedakan kategori, misalnya antara jurnalis, umum atau mahasiswa.

Banyak cara untuk mengumpulkan foto-foto dalam lomba, termasuk tentang ABK. Bisa masyarakat yang berinisiatif mengirimkan karyanya atau panitia sendiri yang dalam periode tertentu memantau foto yang dimuat media di seluruh Indonesia.

Cuma masalahnya panitia dipastikan tidak sanggup untuk memantau semua media di seluruh Indonesia. Ini juga pernah dilakukan dalam penghargaan Adinegoro. Peserta tak mengirimkan naskah tapi panitia yang aktif.

Pasti ada daerah yang lolos. Di situlah kadang-kadang mereka merasa kurang fair. Sebenarnya bisa dilakukan dua-duanya. Masyarakat mengirimkan tetapi juga panitia memantau. Jadi panitia juga harus jemput bola karena kadang-kadang mereka tidak mengirimkan berbagai alasan padahal karyanya bagus.

Dalam lomba ini tim juri yang datang dari kalangan pers dan sehari-hari bertindak sebagai editor. Kami juga membandingkan foto-foto ini dengan konteks internasional dari kasus serupa. Mereka ini memantau ratusan atau ribuah foto setiap hari.

Saya melihat foto-foto yang masuk sebagai juara cukup menggembirakan bila dilihat dari kategori penilaian yang kami buat. Kekuatan dari fotografi adalah bila foto itu subjeknya langsung menarik dan mencuri perhatian juri. Nah itu yang kelihatan dari 13 besar itu. Bahkan sampai 50 besar.

Lomba foto ABK ini sangat langka. Biasanya lomba sejenis masuk ke lomba pendidikan secara umum. Ini menarik, lomba yang secara khusus. Dan kita juga bisa belajar untuk melihat bahwa fotografi dalam ABK ini tidak hanya sisi estetika tetapi yang utama adalah etis.

Oscar menambahkan, kompetensi yang luar biasa ini tentunya ada sebuah esensi yang ingin dicapai. Melalui Lomba Foto ABK ini diharapkan dapat menjadi stimulan bagi penggemar fotografi untuk memperlihatkan bahwa semangat ABK adalah semangat dari drajat manusia yang sama.  “Yang ingin ditegaskan adalah keinginan mereka yang tidak ada bedanya dengan orang biasa. Mereka bagian kita secara utuh,” tutupnya.[yayat/deasy]

Tidak ada komentar:

Posting Komentar