Post Top Ad

Post Top Ad

-0-

Kamis, 05 November 2015

Dirjen Dikdasmen: Hanya 10% dari 1,6 Juta ABK yang Bersekolah

Pemerintah melalui Direktorat Pembinaan Pendidikan Khusus dan Layanan Khusus, Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan bekerjasama dengan Dinas Pendidikan Provinsi Sumatera Barat menggelar Gebyar Pendidikan Khusus dan Pelayanan Khusus di Kota Padang.

"Acara tersebut digelar tiap tahun sebagai wadah bagi anak berkebutuhan khusus (ABK) untuk mendapat pelayanan setara dengan anak lainnya," kata Direktur Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah (Dirjen Dikdasmen) Hamid Muhammad dalam sambutannya.

Dalam sambutannya Dirjen Dikdasmen mengatakan, angka partisipasi pendidikan khusus masih rendah yaitu hanya 10-11 persen  yang mendapatkan pendidikan khusus dari dari jumlah total 1,6 juta anak berkebutuhan khusus di Tanah Air.

"Kementerian sudah menjamin, ada bantuan bagi setiap anak berkebutuhan khusus, dibiayai oleh pemerintah untuk setiap kalangan keluarga," katanya.

Mulai tahun 2015, ia mengatakan, wajib belajar 12 tahun dimulai sehingga anak-anak yang masuk usia SD harus bisa dijamin sampai lulus SMA sederajat, termasuk anak dari sekolah luar biasa (SLB).

"Kami akan berupaya menyosialisasikan wajib belajar 12 tahun selambatnya hingga 2020. "Anak-anak Indonesia harus lulus SMA atau SMK. Target pemerintah sebanyak 97 persen angka partisipasi tercapai," ujarnya.

Ia mengatakan, acara tersebut juga menjadi sarana bagi ABK untuk menunjukkan kemampuannya melalui kegiatan non akademik seperti kegiatan seni.

"ABK memang kurang menonjol dalam kemampuan akademik, sehingga aktivitas mereka di luar akademik sangat perlu didorong untuk meningkatkan keterampilannya," ujarnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Pendidikan Sumbar Syamsulrizal mengatakan, penyelenggaraan acara tersebut diharapkan dapat meningkatkan perhatian orang tua dan sekolah pada ABK.

"Sesuai amanat Undang-undang, pelayanan pendidikan yang terbaik harus diberikan pada setiap anak tanpa memandang keadaan mereka," katanya.

Dirjen mengatakan, salah satu tujuan diselenggarakannya Gebyar PKLK setiap tahun adalah untuk mempromosikan PKLK. Diharapkan, ke depannya tidak ada lagi anak-anak  berkebutuhan khusus yang tidak mendapatkan layanan pendidikan. “Ayo cari anak-anak kita yang berkebutuhan khusus untuk bisa masuk ke lembaga pendidikan khusus.  Kemendikbud sudah menjamin ada program afirmasi untuk semua anak yang berkebutuhan khusus dan dibiayai pemerintah, baik dari keluarga miskin, menengah bahkan dari keluarga kaya sekalipun itu dijamin oleh pemerintah,” tegas Hamid.

Ia juga mengimbau para orang tua agar tidak malu memasukkan anak-anaknya yang berkebutuhan khusus ke sekolah karena setiap anak memiliki potensi berbeda, termasuk anak berkebutuhan khusus. “Tidak ada istilahnya  tuna bagi anak berkebutuhan khusus. Mereka punya kapasitas yang berbeda, karena itu sering disebut difabel (different fability). Jadi  potensinya itu berbeda dengan  anak regular, ujarnya.

Melalui Gebyar PKLK, Kemdikbud ingin menunjukkan bahwa anak berkebutuhan khusus adalah anak yang bisa menunjukkan eksistensinya dan bisa menunjukkan kemampuannya yang bukan diukur dari segi akademik.  Kinerja anak berkebutuhan khusus ditunjukkan oleh kemampuan dirinya untuk mengaktualisasikan potensinya.

“Mari kita dorong anak-anak kita untuk meningkatkan keterampilannya melalui program Gebyar PKLK ini. Mari kita sebarkan ke semua pelosok daerah. Pertama, cari anak kita yang berkebutuhan khusus, lalu dorong mereka bersekolah. Kalau tidak ada sekolah, kita bangun. Kalau pemerinth belum mampu semuanya, ada pendidikan inklusi yang bisa kita masukkan di sana. Tidak ada istilah anak-anak berkebutuhan khusus ini tidak bersekolah. Semuanya kita layani dengan sebaik-baiknya,” tutur Hamid.

Sementara itu Direktur Pembinaan Pendidikan Khusus dan kebutuhan Khusus (PPKLK) Renani Pantjastuti mengatakan Gebyar dan Lomba Keberbakatan PKLK 2015 diikuti sebanyak 206 peserta dari seluruh propinsi di Indonesia.

"Tahun ini terdapat beragam kegiatan yang diselenggarakan pada perhelatan tahunan ini dan terbagi dalam kategori-kategori pada kedua jenis kegiatan, seperti kategori manajemen produk unggulan sekolah, unjuk karya pembuatan produk unggulan, dan kreasi tampilan stand Bhineka Tunggal Ika untuk setiap provinsi. Ketiga kategori ada di dalam Gebyar Pameran Produk Unggulan Sekolah," ujarnya.

Sedangkan untuk Lomba Keberbakatan atau Pentas Siswa Berbakat, kata dia, ada tiga kategori lomba yang akan dilaksanakan. Di antaranya, kategori lomba musik untuk siswa Sekolah Dasar (SD) atau Sekolah Menengah Pertama (SMP)[\]

Tidak ada komentar:

Posting Komentar