Post Top Ad

Post Top Ad

-0-

Jumat, 05 Agustus 2016

Pembekalan Siswa ADEM, Mendikbud: Kami titipkan anak-anak Calon Pemimpin Bangsa

Sejak tahun 2013, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud) telah memiliki program menyekolahkan 350 anak Papua dan 150 anak Papua Barat ke sekolah-sekolah di Pulau Jawa dan Bali.

Menurut Direktur Pembinaan Pendidikan Khusus dan Layanan Khusus Sri Renani Pantjastuti, program ini dijalankan dalam upaya memperluas kesempatan pendidikan bagi anak-anak di Papua hingga jenjang menengah melalui program Wajib Belajar (Wajar) 12 tahun. Selama ini masyarakat Papua merasa disisihkan. Apalagi di sektor pendidikan, masyarakat Papua cukup tertinggal karena sumber daya manusia di bidang pendidikan yang masih minim.

"Selama bersekolah di Provinsi Jawa Barat dan Banten, mereka tinggal di rumah orangtua asuh dan menjadi bagian dari keluarga tersebut. Ini juga bisa menjadi kesempatan bagi mereka untuk mempelajari budaya atau adat istiadat daerah tempat mereka tinggal," katanya.

Setelah lulus sekolah menengah, lanjutnya, anak-anak dari Papua tersebut juga akan diarahkan untuk mengikuti program beasiswa Afirmasi Pendidikan Tinggi (Adik), sehingga bisa melanjutkan pendidikannya hingga ke jenjang Perguruan Tinggi.

Dalam pembukaan dan pembekalan bagi siswa ADEM (Afirmasi Pendidikan Menengah) asal Papua dan Papua Barat, Mendikbud Anies Baswedan memaparkan bahwa Indonesia yang memiliki kekayaan yang luar biasa, dan salah satu tempat yang paling banyak kebhinnekaannya adalah Papua. Papua memiliki 400 bahasa daerah dari 719 bahasa daerah yang ada di Indonesia.

"Adik-adik yang mendatangi sekolah baru dan guru-guru baru adalah orang-orang sebangsa dan setanah air Indonesia. Bagi kepala sekolah dan guru di Jawa Barat dab Banten, saya ucapkan selamat menerima amanat besar untuk mendidikan calon-calon pemimpin bangsa Indonesia," papar Mendikbud.

Orangtua menitipkan anak-anak nya untuk dididik oleh guru di Banten dan Jawa Barat. "Untuk bapak-ibu guru, saya menitipkan siswa program ADEM untuk dididik menjadi orang-rang yang berkualitas dan tangguh," harap Mendikbud.

Sebagaimana diketahui, lanjut Anies, pendidikan itu kolaborasi antara pendidik di rumah dan pendidik di sekolah. Kolaborasi hanya bisa terjadi jika ada komunikasi. Anak dititipkan ke sekolah untuk dididik. Bukan untuk ditindas, bukan untuk dipermainkan.

Sejatinya, pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara.

Sementara, pendidikan nasional adalah pendidikan yang berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 yang berakar pada nilai-nilai agama, kebudayaan nasional Indonesia dan tanggap terhadap tuntutan perubahan zaman.

UU Sisdiknas pasal 1 ayat 1 dan 2 itu. dari kutipan UU di atas, kita perlu menyadari bahwa pendidikan bukan semata-mata mengembangkan potensi diri yang kerap ditafsirkan di masyarakat sebagai kecerdasan dan keterampilan tetapi juga harus dilandasi nilai-nilai keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, dan akhlak mulia sehingga akan sangat wajar ketika pada prosesnya akan ada teguran, nasehat, hukuman, dan hal-hal serupa ketika peserta didik dirasa “melenceng” dari jalurnya.

Dan bagi anak-anak, rindu kampung halaman adalah hal yang biasa saat di daerah yang baru. Ada banyak jutaan orang yang meninggalkan kampung halaman, banyak cerita-cerita setelah keberhasilan orang yang merantau. Anda dijauhkan dari kampung halaman untuk ditempa dan belajar, serta survival. Meski berat jangan pernah mundur, maju terus.

"Jika tidak tahu, maka bertanyalah. Jika merasa malu, maka akan terus ketinggalan. Siap-siaplah untuk digembleng di sekolah dan dilingkungan yang baru,"

Aktiflah di OSIS dan di ekstrakurikuler, bertemanlah dengan teman baru dari tempat kalian belajar. "Ïkuti kegiatan dan libatkan diri pada kegiatan yang positif, jangan mengurung diri,"

Kalian menjadi contoh di kampung halaman. Tulis suratlah sebulan sekali. Karena kalian sedang belajar untuk mengubah kampung halaman dan Indonesia kelak yang lebih baik.

Program ADEM bergulir sejak tahun 2013 dan telah memasuki tahun ketigaempat pada 2016 ini. Sebanyak 1.804 anak Papua telah menimba ilmu di tingkat SMA atau SMK di Yogyakarta, Jawa Timur, Jawa Barat, Jawa Tengah, Banten dan Bali. Untuk program ADEM 2015, tercatat 505 anak Papua/Papua Barat menempuh pendidikan SMA dan SMK di enam provinsi tersebut. Pada ADEM 2016 saat ini ada 500 siswa Papua dan Papua Barat.[\]

sumber
Tabloid SPIRIT 78

Tidak ada komentar:

Posting Komentar